|
Usianya baru 25 tahun 38 hari. Tapi, Yuni Setiawati telah dipercaya menjadi salah seorang calon anggota legislatif (caleg) di DPR. Walau tidak berada di urutan atas, berdasar aturan undang-undang yang baru, Yuni tetap berpeluang lolos ke Senayan
Dewan Pimpinan Wilayah Partai Keadilan Sejahtera Jawa Tengah Rabu (30/7) secara resmi mengumumkan susunan calon legislatif untuk DPR dan DPRD Jateng dalam Pemilu 2009. Ketika perwakilan caleg diminta menandatangani kontrak politik, ada seorang perempuan muda yang ''terselip'' bersama politikus kawakan PKS seperti Ketua MPR Hidayat Nurwahid, anggota DPR Suswono, Ketua DPW PKS Jateng Arif Awaluddin, serta guru besar Undip Bambang Suryanto.
Perempuan berjilbab biru muda tersebut adalah Yuni Setiawati. Dia adalah caleg termuda yang diusung PKS untuk berebut kursi di DPR. Meski masih mudah, dia tampak penuh percaya diri bersama para politikus PKS yang lebih berpengalaman dalam berpolitik.
''Muda atau tua tidak bergantung usia. Tapi, kita semua punya harapan sama untuk bertekad memenangi Pemilu 2009,'' ujar Yuni yang lahir di Sukoharjo, 24 Juni 1983.
Dunia politik bagi lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (Undip) 2006 itu bukanlah suatu hal yang ''haram'' dilakoni kaum perempuan. Jumlah kaum perempuan di negeri ini cukup banyak, melebihi kaum laki-laki.
Karena itu, menurut Yuni, sudah selayaknya kaum perempuan turut berjuang dan mendapatkan posisi yang mulia seperti dalam agama Islam. Dan politik tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat. ''Jika kita ingin mengabdi bagi bangsa ini, memberikan yang berharga bagi bangsa ini, mau tak mau harus masuk ke kancah perpolitikan,'' tegasnya.
Istri Pramuhadianto, 25, tersebut tidak memungkiri, memang sebagian besar masyarakat Indonesia sekarang sering bersikap apatis terhadap segala hal yang berbau politik. Masih banyak yang beranggapan bahwa politik itu kotor dan penuh intrik untuk mencapai sebuah tujuan.
Dengan maju sebagai caleg, dirinya ingin mengubah persepsi tersebut. Tidak bisa sesuatu yang dianggap kotor terus-menerus dibiarkan tanpa tindakan apa pun. ''Kalau menganggap politik itu kotor, ya mari sama-sama kita bersihkan. Kalau diam saja, sama saja dengan melihat keadaan buruk, tapi tidak mau mengubahnya,'' ujarnya.
Berdasar daftar nama caleg yang diumumkan DPW PKS, nama Yuni memang tidak masuk dalam nomor peci atau nomor urutan atas. Di daerah pemilihan (dapil) 3 Jateng yang menyediakan sembilan kursi, Yuni berada di urutan nomor 10.
Meski di nomor sepatu (urutan bawah), berdasar undang-undang baru, dia tetap berpeluang menjadi anggota DPR. Sesuai UU No 10/2008, seandainya PKS mendapatkan kursi di dapil 3 Jateng, Yuni bisa saja terpilih. Syaratnya, dia mendapatkan suara terbanyak yang jumlahnya minimal 30 persen dari bilangan pembagi pemilih (BPP) di dapil tersebut.
Mantan aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip itu mulai aktif di dunia politik sebagai anggota PKS saat masih tercatat sebagai mahasiswa pada 2004. Setelah resmi mendapat gelar sarjana kesehatan masyarakat, dia mulai aktif di organisasi sayap perempuan PKS, Barisan Putri Keadilan (Santika). Empat tahun berkiprah di berbagai kegiatan partai, dia pun akhirnya dipercaya menjadi salah seorang caleg dalam Pemilu 2009. (*/ruk) Jawa Post, Agustus 2008 |